Di tengah hamparan pepohonan hijau dan suara riuh burung-burung, aku menatap
langit dari teras rumahku yang sederhana di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Hidupku
berubah drastis setelah pernikahan yang dijodohkan oleh orang tua. Suatu keputusan yang
terasa asing saat itu, namun hari demi hari mengajarkan arti kesabaran.
Suamiku, bernama Junaedi, berasal dari Kutai Timur, Kalimantan Timur bekerja
sebagai honor di instansi Dishub akan tetapi kedua orang tua beliau asalnya dari Kabupaten
Barru tepatnya di Sulawesi Selatan juga. Kami tidak pernah bertemu hanya pada saat akad
nikah baru dipertemukan pada hari H tersebut dan hebohnya lagi banyak tamu yang hadir
karena penasaran kedua calon pengantin ini tidak pernah bertemu dan kenal sama lain, jadi
ingin melihat secara langsung bagaimana keliahatan ekspresi kedua mempelai nantinya,
dengan menyaksikan acara akad nikahnya pada waktu itu. Calon suamiku ini adalah adalah
pegawai honor di instansi pemerintah setempat, dan betapa terkejutnya aku ketika
mendengar kabar bahwa kami akan dipertemukan dalam ikatan suci. Awalnya, aku merasa
ragu, namun Ayah dan Ibu selalu mengingatkan bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan yang
perlu dijalani dengan ikhlas.
Setelah seminggu acara pernikahan dan resepsi, aku ikut sama suamiku Junaedi dke
Kalimantan tepatnya di kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur. Kehidupan baru kami dimulai
dengan serba sederhana. Awalnya kami tinggal di rumah barakan dan beberapa tetangga yang
ramah menyapaku dan akhirnya saya menyapa balik dan berkenalan lebih dalam. Selama
tiga bulan menekuni sebagai ibu rumah tangga, akhirnya saya merasa bosan tinggal dirumah
yang awalnya saya wanita pekerja dan sebagai guru honor di kampung halaman tiba-tiba
tidak bekerja, akhirnya saya putuskan untuk meminta izin kepada suami untuk bekerja dan
meminta untuk dibuatkan surat lamaran untuk dibawa ke sekolah swasta pada waktu itu
karena kebetulan yang punya sekolah yayasan tersebut adalah mantan bosnya di instansi
perhubungan dan lansung diterima dan diperintahkan langsung untuk mengajar matematika
karena pada waktu itu sekolah tersebut membutuhkan guru matematika. Singkat cerita aku
seorang istri berusaha juga menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, meskipun banyak
tantangan sering menghadang. Di tengah kesibukan, aku belajar untuk saling memahami
karakter satu sama lain. Junaedi yang pendiam, sabar dan aku yang lebih banyak bicara,
saling melengkapi dalam menjalani hari-hari. Setiap malam, saat semua sudah terlelap, kami
berbagi cerita dan impian di bawah sinar bulan.Kendati kami berasal dari pulau yang sama tetapi sama-sama merantau di pulau
Borneo tetapi suami lebih dulu ke Kaltim dan saya ikut setelah menikah, rasa syukur selalu
ada dalam hati kami. Kami bertekad untuk menjalani hidup ini dengan semangat, meski
awalnya terasa berat. Pekerjaan dan penghasilan Junaedi pun tak selamanya waktu itu stabil,
tetapi kami selalu saling menyemangati. Dengan ketekunan, ia akhirnya berhasil menjadi
PNS, dan setelah itu saya mengikuti jejaknya yang telah lebih dulu mendapatkan status
tersebut. Kami merasa bangga, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga yang
telah mendukung kami.
Tahun demi tahun berlalu, cinta kami tumbuh, dan tak terasa sudah dikaruniai empat
anak dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka menjadi sumber kebahagiaan dan motivasi
dalam hidup kami. Menyaksikan mereka tumbuh sehat dan ceria adalah anugerah yang tak
ternilai. Kami sering menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang cita-cita, mengajari
mereka tentang kesederhanaan, dan memberikan nilai-nilai kehidupan.
Meskipun perjalanan hidup penuh liku, saat ini kami dapat tersenyum melihat
pencapaian itu. Dari perantauan, kami tidak hanya menemukan cinta, tetapi juga menemukan
diri kami yang lebih kuat dan bersyukur. Di setiap langkah, ada harapan dan kebahagiaan
yang tak terhingga.
Kini, saat aku duduk di depan rumah, menatap anak-anak bermain riang di halaman,
aku ingat masa-masa awal itu. Cinta yang tumbuh dari perjodohan ini telah membawa kami
ke tempat yang lebih baik. Kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur telah menjadi fondasi
kuat dalam rumah tangga kami. Dan di sinilah kami, bahagia di bawah langit yang sama,
dengan mimpi-mimpi yang terus terbang tinggi.
Akhir
Perjalanan hidup ini mengajarkan bahwa jodoh adalah keberkahan yang perlu dijaga, dan
bersama-sama, kami telah membangun keluarga yang penuh cinta.
Jusriah, S.Pd
