AYAH
Memandang kulitmu yang hitam legam
Membuatku semakin terpesona
Itu adalah pertanda betapa gigihnya engkau berjuang menerjang badai hidup yang membelah cuaca.
Engkau tak pernah mengeluh selain berjuang,walau itu engkau anggap bukan perjuangan.
Ayah
Aku tidak pernah lupa tentang dirimu.
Kadang kita seperti kawan, yang selalu bercerita walau dalam lelah. Dan kadang pula kita tertawa bersama bahkan sering perkataanmu menyentuh jiwa dan ragaku.
Ayah
Kokohnya tangan dan pundakmu, menggendong kami anak anakmu walau kadang kami mengganggu kerjamu di tepi sungai Mahakam.
Tapi menurutmu itu adalah merupakan penawar lelahmu yang bekerja dari pagi hingga malam.
Ayah
Kini engkau sudah tiada
Tetapi jejak dan langkahmu terus terasa ada.
Bagiku ini adalah jejak sejarah perjuanganmu yang harus kami tulis dan kenang
Jainah, S.Pd
